Terpikir Akan Potensi Besar Nyata Kab. Simalungun

 

Simon Saragih

Simon Saragih

Saya kebetulan pernah belajar ekonomi pembangunan saat kuliah dulu di UGM. Andai terwujud, hal yang terpikir di benak saya sekarang adalah Simalungun yang inter-connected.

Misalnya, sekarang Bandara Internasional Kuala Namu harus membuat warga Simalungun Atas, warga Samodir, Sumbul, berputar ke Medan atau ke Siantar sebelum tiba di Kuala Namu.

Sebenarnya sudah ada akses langsung dari Merek Situnggaling ke Saribu Dolok menuju Saran Padang.

Jika jalan tembus mulus hingga ke Kuala Namu, maka Simalungun Atas dan rangkaian wilayah Saran Padang hingga ke Gunung Meriah akan terkoneksi bagus.

Ini akan memuluskan mobilitas warga dan angkutan hasil-hasil bumi.

Produktivitas berkorelasi sangat tinggi dengan mobilitas. Jika ini terwujud, maka jalur Kaban Jahe – Medan yang sudah pada titik jenuh, akan diringankan. Atau, ini tidak akan menambah kerepotan di jalur Kaban Jahe – Medan yang sudah tak mampu melayani jalur bisnis Karo-Medan.

Artinya, Simalungun bisa mengembangkan kue ekonomi sendiri dengan cukup menyetir potensi yang ada, seperti memuluskan jalur Saribu Dolok – Kuala Namu. Ini tidak akan merugikan Kab Karo malah membuat mereka lega.

Percayalah, warga Samosir, Sumbul, hingga dari Singkil Aceh, pasti dengan senang hati melintasi jalur ini. Dari Singkil ke bandara di Aceh terlalu jauh dan mereka lebih dekat ke Kuala Namu. Tetapi jalan tidak mulus.

Jika jalur ini terkoneksi bagus, maka sektor jasa ikutan akan berkembang dengan sendirinya. Hasil-hasil bumi berton-ton tidak lagi harus melewati jalur yang munjal-unjal. Jaringan restoran akan bertumbuh karena nan ramai warga yang akan melewati jalur itu dan tentu mereka akan lapar di jalan. Hotel-hotel pun akan berkembang dengan sendirinya oleh para investor yang datang sendiri.

peta simalungunTerbayang pula saya akan jalan darat yang sudah ada dan sudah tembus mulai dari Tongging, hingga ke Haranggaol lalu lanjut ke Tiga Ras. Jalur ini sudah lama dirintis tetapi sedang mati suri. Di jalur ini terdapat views atau pemandangan indah Danau Toba dengan aneka sudut.

Jika jalur Tongging – Tiga Ras mulus, maka akan merangsang turis lokal, nasional bahkan internasional untuk datang karena mereka berjalan begitu nyaman dan tidak lagi harus naik turun bukit lewat Saribu Dolok, Tinga Runggu untuk turun lagi ke pantai. Jika jalan di jalur pantai mulai dari Tongging hingga Parapat terkoneksi, bayangkan saja, betapa Danau Toba yang sudah terkenal itu akan lebih ramai wisatawan.

Terbayang pula saya, jalur Pematang Raya – Nagori Dolok. Jalur ini juga seperti mati suri sekarang ini. Jika hendak ke Nagori Dolok, harus jalan seperti membulat karena harus lewat Siantar, Tebing Tinggi dulu, lalu balik lagi ke arah Nagori Dolok, yang justru tidak jauh dari Pematang Raya itu sendiri.

Andai jalur Pematang Raya-Nagori Dolok mulus, dan saya heran entah kenapa tak pernah bisa mulus, maka pembangunan di Raya sekitar juga akan lancar dan akan bagai magnet bagi kegiatan ekonomi derivatif atau kegiatan ekonomi ikutannya.

Demikian pula dari Pematang Siantar menuju Kisaran hingga Rantau Parapat. Jalur yang ada sekarang harus melalui Kota Lima Puluh – Perdagangan. Ini artinya, traveller harus membelok dulu ke arah Timur sebelum berbelok lagi ke arah selatan atau ke Kisaran.

Di sisi lain ada jalur Tanah Jawa yang jika jalannya mulus, lebih dekat dari Siantar ke Kisaran dan lanjut ke Rantau Parapat.

Saya teringat hal ini karena kesimpulan para ekonom APEC di Bali Oktober tahun lalu. “Asia bisa berkembang terus tanpa harus mengharapkan kebangkitan ekonomi AS. Asia hanya perlu membangun infrastrukturnya saja.”

Dalam konteks Simalungun, kesimpulan para ekonom iAPEC tu mengena.

Nah, bagaimana dengan pendidikan dari SD hingga ke Universitas di Simalungun? Bagaimana dengan layanan jasa kesehatan?

Kapasitas sekolah yang ada relatif memadai dan mampu menampung para siswa hingga para mahasiswa/i. Seperti Universitas Simalungun misalnya, areal kampusnya begitu besar dan juga ada Universitas Nomensen. Tinggal mengembangkan saja apa yang sudah ada dan pernah sangat baik adanya itu.

Jasa kesehatan, tinggal meningkatkan layanan di RS Bethesda Saribu Dolok, RS GKPS Pematang Raya. Juga tinggal meningkatkan layanan Puskesmas yang ada karena jumlahnya sudah banyak tetapi kini lebih banyak idle capacity atau menganggur tanpa kesibukan berarti.

Para pejabat untuk itu sudah ada seperti sudin-sudin yang sudah berpengalaman di bidangnya. Mereka itu adalah orang-orang yang educated dan siap bekerja dengan baik. Aslakna memang mereka bisa dibuat bekerja dengan nyaman tanpa takut akan masa depannya. Bekerja itu harus didasari dulu pada rasa tenang (secured).

Masih banyak lagi yang bisa dipikirkan. Namun sejauh ini, hal-hal di atas saya kira amat mengena dengan keadaan terkini di Simalungun.

Ekonomi Simalungun itu potensial. Jalanannya saja yang masih masalah dan belum terkoneksi mulus ke setiap sudut.

Mudah? Tentu tidak.

Bisa? Ya pasti bisa.

Menurut saya, semua itu hanya tergantung visi pembangunan dan skala prioritas tentang apa yang hendak dibangun lebih dulu.

Siapa pun Simalungun 1, ya memang kepentingan konstituen mulai dari SImalungun Atas hingga SImalungun Bawah harus jadi “The Kings”.

Rakyatlah yang harus jadi “The Kings”. Jika tidak demikian, status quo pembangunan akan sama saja seperti bertahun-tahun lalu.

To serve not to be served, itu sih seharusnya yang menjadi motto seorang Simalungun.

Iklan

One thought on “Terpikir Akan Potensi Besar Nyata Kab. Simalungun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s