Karakter Paradoks Seorang Pemimpin

(Refleksi atas perjumpaan dengan Pak Bona Petrus Purba)

Subandri Simbolon

Subandri Simbolon

Setiap orang memiliki persepsi tersendiri tentang pemimpin ideal walau sering saling bertentangan. Ada yang mengidolakan pemimpin yang tegas, keras tetapi ada juga yang mengidolakan yang sebaliknya. Murah hati dan lemah lembut. Bahkan, ada pula yang menyatukan kedua idola sebelumnya. Yang pasti, semua impian itu sah karena itu adalah hak setiap orang.

Semua harapan dari masyarakat secara langsung menimbulkan seorang sosok pemimpin yang paradoks. Paradoks dalam karakter kepemimpinan menjadi kata kunci. Seorang pemimpin dirumuskan sebagai seorang yang pada saat yang sama mampu berkarakter lembut namun tegas, keras namun murah hati, dekat dengan rakyat namun tidak lupa posisi sebagai pemimpin.

Perjumpaan pertama saya dengan Pak Bona P Purba Ak terjadi di Kota Jogjakarta. Sebagai seorang koordinator salah satu komunitas cabang Jogja, saya bertugas untuk menjemput beliau sebagai koordinator Pusat. Bagi saya, ini adalah suatu situasi yang dapat membuat saya terasa gamang. Dengan modal motor (di Medan disebut dengan kareta) kegamangan saya semakin beralasan.

Namun, kegamangan saya langsung luntur ketika Pak Bona dengan senyum melihat keadaan penjemputan.

Kenyataan yang sangat sederhana ini menunjukkan sebangunan karakter dari seorang pemimpin. Pemimpin itu harus merakyat tanpa dia lupa posisinya sebagai pemimpin. Pak Bona tidak sungkan-sungkan untuk turun ke dalam dunia saya. Dia hadir sebagai seorang teman yang mau duduk di jog motor yang saya kendarai. Namun, aura kepemimpinan itu tidak lepas.

Di atas jok motor, Pak Bona langsung bertanya mengenai keadaan komunitas cabang kami. Mendengarkan adalah tindakan selanjutnya dari pertanyaan. Dengan tenang, Pak Bona mendengarkan setiap kata yang saya ucapkan. Mendengarkan bukan menggurui. Dan benar, saya tidak sedikit pun berasa digurui. Namun, dia tetap menegur ketika saya salah dalam tindakan.

Karakter Paradoks seorang pemimpin tidak lah karakter pemain sinetron (dibuat-buat). Yang penting masyarakat senang. Karakter ini lahir dari pribadi yang secara jujur menunjukkan dirinya kepada yang lain. Ketika seorang pribadi memilikinya, orang akan mengatakan “dia adalah seorang yang berkharisma”.

Jokowi adalah seorang pemimpin yang suka guyon, tetapi orang tetap memberikan rasa hormat yang segan kepada dia. Beda dengan seorang komedian yang suka ditendang, kepalanya didorong, atau segala macam guyonan. Pak Bona juga memiliki karakter paradoks ini. Dia membuka diri bagi siapa saja tanpa melupakan dirinya yang sebenarnya. Dia lembut dan suka membantu, tanpa lupa diri sebagai seorang yang harus memimpin.

Setiap kita memiliki pemimpin yang ideal, karena itulah pemimpin harus mampu hadir untuk merajut semua impian itu.

Salam Habonaron Do Bona..!!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s