Kehidupan yang Kontras

Simon Saragih

Simon Saragih

SULIT membayangkan seseorang yang bergelut dengan angka miliaran rupiah tetapi hidup kesehariannya adalah kadar recehan.

Sulit pula membayangkan profil seorang yang pernah jadi dosen di Universitas Pelita Harapan yang mahal itu dan pekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bertahun-tahun tetapi bertahun-tahun pula bertahan dengan kehidupan “sumir”.

Penasaran dengan kisah nyata kehidupan keluarganya, sengaja saya ditemani Andersius Ginting Ofs dan Jobs Tarigan berkunjung. Ini baru pertama kali saya sendiri memasuki rumah Bona Bona P Purba Ak walau sudah berteman sejak 1980.

Kesederhanaan vs Jabatan

Memasuki kompleks rumahnya seperti membutuhkan perjuangan tersendiri. Melintasi kompleks perumahan Alam Sutra nan megah serta mewah terbayang sebuah rumah dan jalan besar. Kami menuju Alam Sutra di Tangerang karena akses jalan ke kompleksnya tertulis melalui Alam Sutra, salah satu hunian paling elite di kawasan Tangerang.

Namun menuju kompleks perumahannya di bilangan Kinciran itu tidak lewat boulevard alias jalan lebar. Dari lingkungan Alam Sutra harus menuju lagi ke sebuah akses mirip gang tikus dimana dua mobil tak bisa saling melewati dengan mulus. Di titik-titik tertentu satu mobil harus berhenti untuk memberi akses bagi mobil lainnya.

Begitu banyak gang kecil, semraut dan berliku sehingga ada dua kali maju mundur karena keliru. Begitu tiba, rumah ada di jejeran perumahan tipe 36 dengan luas bangunan 60 meter dan begitu juga luas tanahnya.

Doa dan Harapan Seorang Istri

“Silahkan masuk, maaf rumah RSS ya,” demikian Sri Lestari tersenyum menyambut kami. Namun posisi ruangan terasa nyaman karena penataan interior yang apik walau sempit.

Perbincangan pun berlangsung dengan istri Bona P Purba Ak, bernama Sri Lestari. Dia pun menceritakan putra bungsu mereka Alex yang bersekolah di SMP Ora et Laboran di bilangan Bumi Serpong Damai (BSD).

“Lha, kan ada Yayasan Santa Laurensia dekat sini? Mengapa harus jauh ke BSD?”

Di Yayasan Laurensia uang pangkal Rp 35 juta tetapi di Ora et Labora hanya Rp 17 juta. “Uang sekolah di Laurensia pun mahal, RP 2 juta sebulan. Karena itu kami pilih Ora et Labora,” kata Sri Lestari yang setiap hari mengantar anaknya naik sepeda motor dengan jarak sekitar 15 KM dari rumah yang sudah mereka tinggali puluhan tahun.

Lalu dimana putri tertuanya, Donna kuliah? “Dia diterima di PTN Universitas Brawijaya jurusan Komunikasi di Malang.”

Perbincangan pun mengarah ke hal pribadi dari sisi rumah tangga sejoli ini.

Jangan bayangkan kehidupan mewah, berlebihan apalagi liburan ke Bali atau Singapura sebagaimana dilakukan banyak kalangan kelas menengah sekarang ini. Bertahun-tahun pasangan ini tidak pernah mampu melakukan itu. Di saat libur mereka kadang hanya kembali ke kampung halaman orangtua. “Siamu saya selalu ingat Ibundanya.”

“Saya seorang asal Solo dan diajarkan berprinsip layaknya seorang istri yang harus memahami. Karena itu sebagai istri saya menurut saja dan berdoa semoga suami selalu bahagia dan baik-baik di pekerjaannya,” kata Sri Lestari.

Setuju Bona maju menjadi bakan calon bupati?

“Iya, kebetulan rencana ini sudah didiskusikan pada saya dan anak-anak. Kami setuju. Namun sebenarnya ada tanda tanya.”

Apa karena suami akan kehilangan waktu untuk keluarga atau apa?

“Oh, kalau soal waktunya saya sudah paham. Sejak dulu dia memang sibuk dengan pekerjaan dan kami sudah memaklumi.”

Lalu ada opini ketika dia mencoba maju sebagai balon bupati?

“Tidak ada. Saya setuju saja. Sejak dulu memang dia sudah memilih untuk melayani dan fokus pada pekerjaannya. Kalau keadaan di rumah lebih banyak saya yang menangani termasuk anak-anak.”

Namun saya memang bertanya karena sekilas saya tahu jika maju atau mencalonkan diri jadi anggota legislatif dan eksekutif memerlukan banyak uang. “Karena itu saya menanyakan bagaimana mengatasi hal itu. Ya karena saya yang selalu memegang uang karena itu sangat tahu sekaligus heran dan berpikir bagaimana jika itu membutuhkan uang besar?”

Jika untuk kehidupan keluarga, menjalani hidup sederhana tentu tak masalah. Akan tetapi ini soal balon yang terkait uang besar.

Namun ketika dijelaskan bahwa ini adalah sebuah perjuangan, sesuatu yang memang tidak mudah tetapi tetap dicoba demi sebuah perjuangan sekaligus memberi warna tanpa “money politics”.

“Jika memang demikian, saya setuju saja. Hanya saja saya tentu sempat bertanya soal itu karena demikianlah fakta kehidupan kami. Jika memang itu keinginannya, saya turut berdoa dan itulah yang bisa saya lakukan seperti yang sudah jalankan sejak dulu.”

Suami Saya Memang Baik

“Kalau soal sifat, ya saya tidak pernah ragu. Sejak dulu dia selalu bicara soal pelayanan dan melayani. Doaku menyertainya dari hati terdalam.”

Soal kesediaan pelayanan dan kebaikan, ini adalah satu hal yang bisa saya katakan sejujurnya. Tentu tak ragu mengatakan bahwa suami saya memang baik. “Saya sering kali memilih mengalah karena ya memang begitulah orangnya.”

Mengalah dalam arti, merelakan kepribadian suami yang memang terus memilih melayani orang sejak kami menikah. Ya hanya itu warna utamanya. Dan saya kuat serta rela menerima itu.”

“Hal yang saya tahu sejak kecil dia ingin menjadi rohaniwan walau tidak kesampaian. Karena itu saya bisa memahami mengapa sikap seperti itu tetap dia pegang dan konsisten sampai sekarang, bahwa dia ya untuk orang lain. Kadang sebagai istri saya sering merindukan dia agar utuh menjadi milik saya dan milik keluarga. Akan tetapi lama-lama saya mengerti karena memang dia sudah seperti itu.”

Sekali lagi saya mengatakan, “Saya berdoa agar ini tercapai dan ini tulus dari hati saya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s